23.11.07

Jangan ngomong MELAYANI ya...

Jam 11 malem, di malem Jum’at…

“Eh, gue ga’ malem-malem ya... Kalo malem Jum’at kan wajib hukumnya ngelayanin suami..,” kata seorang temen kantor.

Gue engga mau ngeributin masalah hukum wajib apa engga nya ya... Tapi gue lebih keberatan sama kata ‘melayani’ itu loh... Kok kesannya tinggal siap badan gitu, kebayangnya kayak kambing guling =)) Mau dimakan, ayooo... Ga’ dimakan juga biar aja ‘dieler-eler’ gitu. Hih!

Namanya aja ML, making love... It takes 2 to tango, rite? Ga’ bisa dong kalo satu doang yang sibuk ‘melayani’ (ini kalo keukeuh mau pake kata melayani ya…), sedangkan yang satu lagi kesenengan dilayani. Diem aja gitu kayak gedebok pisang, maunya tau-tau enak aja. Waduh… waduuuhhh… Please deh…

Lebih parahnya, udah ‘dilayanin’ istri gitu, masih pake selingkuh juga dengan alasan ‘pelayanan’ dari istri kurang memuaskan! Audzubilah minzalik… Jangan sampe kejadian deh…
Semua itu berawal dari kata pelayanan, di mana cuma 1 orang yang aktif. Mangkanya gue kurang setuju bilang ‘melayani suami’ untuk mengganti makna kata bercinta.
Lebih enak kan ‘sayang-sayangan’, ‘have fun go wild’ atau apalah...

Setuju kan?

8 comments:

obeems said...

ahahha kesannya babu yaa keeeee

Neng Keke said...

Obeems:
Babu nafsu huahahahhaha...

obeems said...

nafsu birahiiiiii

Ia said...

gak papa juga, neng. si istri bilang, "melayani suami" tapi si suami juga selalu bilang, "melayani istri".

jadi, dua-duanya adalah pelayan bagi pasangannya. kukira, dalam asmara dan cinta, kadang-kadang kata-kata tidak "mewakili maksud" yang sebenarnya. bahasa ranjang apalagi. temenku yang lelaki, suatu pagi datang ke kantor, dan sorenya ketika kami main pingpong, kulihat pundaknya ada luka. ternyata dia "digigit" istrinya. gigitan itu, luka itu, secara fisik adalah tanda "kesakitan", bukti "aniaya". tapi, dalam bahasa asmara, luka itu adalah tanda "kenikmatan", bukti "tunduk dalam pelayanan".

haha.. jadi ke mana-mana. intinya, aku pun selalu memakai kata "melayani", "mengabdi" pada pasanganku, dan aku tidak merasa rendah karena hal itu. karena aku memang melayaninya, mewakafkan diriku dan waktu ketika bersamanya.

Neng Keke said...

Obeems:
'serah dyeeehhh...

Ia:
Waaaa... Pemikiran baru nih :) Bener juga!

Yuki Tobing said...

haha, lucu juga artikelnya neng keke, macem ide2nya para feminis.. itu yang ditulis si ia ide bagus emang kok..

Nahria Medina Marzuki said...

Uhuk uhuk...

mbak postingannya sekseh sekaliii :D

rheina said...

gw mah cuma penasaran ... kamus dari mana ya malam jum'at itu .. malam wajib *what ever istilahnya* pe ada yang bilang sunnah Rasul segala ... kesanya gitu loh .. malam2 yang lain pan sama ajah ... atau kenapa musti malam? pagi atau siang ...??? *hehehe*